Aliansi Bebas Api yang Digagas Perusahaan Sukanto Tanoto Terus Berkembang

Royal Golden Eagle
Source: APRIL Asia

Royal Golden Eagle (RGE) yang didirikan pengusaha Sukanto Tanoto menaruh perhatian besar terhadap bahaya kebakaran lahan dan hutan. Hal ini yang membuat salah satu anak perusahaannya, APRIL Group, ikut membidani kelahiran Aliansi Bebas Api. Belakangan upaya kolaboratif pencegahan api ini kian berkembang.

RGE didirikan oleh Sukanto Tanoto pada 1974 dengan nama awal Raja Garuda Mas. Dari berkecimpung dalam produksi kayu lapis, sekarang perusahaannya itu sudah berkembang pesat. Mereka terus tumbuh menjadi korporasi kelas internasional dengan bidang industri beragam.

Lihat saja deretan anak perusahaan Sukanto Tanoto tersebut. Mereka berkiprah mulai dari bisnis pengembangan energi, selulosa spesial, viscose fibre, pulp and paper, serta kelapa sawit.

Berkat itu, Sukanto Tanoto mampu membuka kesempatan kerja untuk sekitar 60 ribu orang karyawan. Selain itu, ia mampu mengangkat aset RGE menjadi senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat.

Anak-anak perusahaan Royal Golden Eagle boleh berbeda-beda. Namun, mereka memiliki kesamaan, yaitu peduli terhadap kelestarian alam. Salah satunya ditunjukkan oleh APRIL yang sangat konsen terhadap kebakaran lahan dan hutan.

Hal itu dikarenakan APRIL merasakan sendiri betapa buruknya dampak kebakaran. Dengan basis operasi utama di Pangkalan Kerinci, Riau, mereka sempat mengalami efek buruk kebakaran lahan dan hutan hebat yang melanda pada 2015.

Kala itu, api berkobar melalap lahan dan hutan di Riau dan berbagai wilayah lain di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Dampaknya sangat buruk. Kabut asap tercipta sehingga mengganggu kesehatan. Saking besar kebakaran, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sampai ikut terkena imbas.

Kondisi membuat APRIL tergerak untuk berbuat sesuatu. Mereka tak mau hutan di Indonesia habis dilalap si jago merah. Hal itu mendorong mereka menggagas Program Desa Bebas Api.

Dirintis sejak 2014, Program Desa Bebas Api merupakan terobosan besar dalam upaya penanganan masalah kebakaran lahan dan hutan di Indonesia. Dalam kegiatan yang resmi bergulir pada April 2015 itu, penekanan terletak kepada pencegahan dan kolaborasi. Hal ini sangat berbeda karena sebelumnya problem api baru ditangani ketika sudah ada kejadian.

Lewat Program Desa Bebas Api, APRIL mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif mencegah kebakaran. Sebagai penyemangat, perusahaan Sukanto Tanoto ini memberikan insentif kepada desa-desa yang ikut serta.

Kalau mampu mengamankan wilayahnya dari api selama setahun, mereka akan memperoleh dana hibah sebesar Rp50 juta hingga Rp100 juta yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan desa. Dana itu berupa bantuan pembangunan infrastruktur atau dukungan kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Pendekatan yang diambil Program Desa Bebas Api rupanya berbuah sukses. Hal ini membuat APRIL ingin memperluas jangkauannya supaya semakin banyak lahan yang dilindungi.

Perusahaan Sukanto Tanoto itu akhirnya mengajak sesama korporasi lain untuk bekerja sama. Mereka adalah sesama anggota RGE, Asian Agri serta perusahaan lain seperti IDH, Musim Mas, PM.Haze, dan Wilmar. Dari inisiatif itu terbentuklah upaya kolaboratif penanganan kebakaran lahan dan hutan yang dinamai sebagai Aliansi Bebas Api.

Terbentuk secara resmi pada Februari 2016, Aliansi Bebas Api mengadopsi Program Desa Bebas Api yang sukses digulirkan oleh APRIL. Di dalamnya termasuk juga berbagai upaya manajemen kebakaran seperti pemberian insentif, pembentukan crew leader, pendampingan pertanian berkelanjutan, masyarakat peduli, pemantauan kualitas udara, serta beberapa project pilot.

Upaya ini memiliki dampak besar. Sebab, tahun pertama saja sudah 200 desa yang ikut serta. Hal itu membuat ada 1,5 juta hektare lahan terlindungi dari bahaya api.

TERUS BERKEMBANG

Royal Golden Eagle
Source: APRIL Asia

Aliansi Bebas Api terus berkembang dari waktu ke waktu. Memasuki 2017, jumlah desa yang ikut serta bertambah menjadi 218 desa. Dari jumlah itu, 77 desa di antaranya memilih untuk berpartisipasi secara intensif dalam pencegahan kebakaran.

Kalau dibandingkan dengan partisipasi awal dari Program Desa Bebas Api yang dijalankan oleh APRIL, peningkatan pesat terlihat nyata. Jumlah desa yang ikut serta dalam program sudah melonjak hingga 756%.

Hal ini tidak aneh kalau melihat kesuksesan yang diraih Aliansi Bebas Api. Program ini memang terbukti sukses menekan tingkat kebakaran. Antara 2015 hingga 2016, catatan Aliansi Bebas Api menyebutkan kegiatannya berhasil menurunkan kebakaran antara 50 hingga 90 persen.

Melihat kesuksesan tersebut, tidak mengherankan banyak pihak yang tertarik untuk berpartisipasi. Ini membuat Aliansi Bebas Api berkembang semain besar. Hal itu ditandai dengan bergabungnya dua anggota baru, yakni Sime Darby dan IOI Group pada Maret 2017.

Kehadiran dua anggota baru jelas memperbesar cakupan wilayah yang dilindungi dari bahaya kebakaran. Tentu saja ini merupakan kabar positif bagi upaya pelestarian alam di Indonesia.“Aliansi Bebas Api dibentuk untuk memudahkan para anggota berbagi pengetahun dan sumber daya. Itu berguna sebagai platform bagi anggota untuk saling membantu dalam mengembangkan strategi efektif pencegahan dan penanganan risiko kebakaran. Semua dilakukan lewat kerja sama jangka panjang dengan masyarakat di Indonesia dan Malaysia,” kata Direktur Carbon Conservation, Dorjee Sun.

Para anggota Aliansi Bebas Api yang baru juga segera mengambil insiatif untuk melindungi lahan dan hutan. Sime Darby misalnya memperluas cakupan Program Desa Bebas Api dari semula hanya 4 desa menjadi sebelas desa pada 2011.

IOI Group tidak mau kalah. Mereka semakin menggalakkan program Pelatihan Peduli Api yang sudah dijalankan sejak 2016. Dari jumlah peserta 50 orang pada 2016, partisipan ditambah 70 orang lagi pada 2017. Tujuannya supaya semakin banyak orang yang sadar terhadap bahaya kebakaran lahan dan hutan.

Upaya penanggulangan kebakaran serupa juga sudah dilakukan oleh perusahaan Sukanto Tanoto sebagai penggagas Aliansi Bebas Api. APRIL misalnya mampu meningkatkan jumlah desa peserta Desa Bebas Api. Pada 2018, jumlah desa yang ikut 18 desa. Namun, pada 2017, ada tambahan tujuh desa lain yang berpartisipasi.

Hal itu membuat ada lahan seluas 600 ribu hektare yang terlindungi dari bahaya api. Tak aneh, selama 2016, hanya ada 0,07 persen area yang terganggu problem kebakaran.

Anak perusahaan RGE lainnya, Asian Agri, juga mengambil berbagai inisiatif untuk mencegah api berkobar dengan liar. Awalnya ada tujuh desa di Riau dan dua lainnya di Jambi yang ikut serta pada 2016. Namun, pada 2017, jumlah desa yang ikut meningkat sebanyak enam buah lagi.

Dari kegiatan tersebut, luas lahan yang dilanda kebakaran semakin menurun. Dari total luas lahan 306.664 hektare yang dicakup pada 2016, hanya ada 6,78 hektare yang terkena kebakaran. Kasus itu menurun hingga 50 persen kalau dibandingkan pada 2015. Saat itu, ada 13,75 hektare lahan yang dilalap si jago merah.

Pencapaian itu memperlihatkan manfaat besar Program Desa Bebas Api yang diadopsi oleh Aliansi Bebas Api. Kegiatan yang digagas perusahaan Sukanto Tanoto itu terbukti menekan tingkat kebakaran. Tidak aneh semakin banyak pihak yang tertarik untuk mengikutinya.

  1. author

    HENI TRISNA3 weeks ago

    Semoga perusahaan ini berkembang dengan baik dan seluruh masyarakat indonenia sangat mendukung aliansi bebas api ini..supaya tidak ada lagi kebakaran hutan yang menyebabkan kerusakan dan keindahan hutan indonesia tercinta.

    Reply

Leave a reply "Aliansi Bebas Api yang Digagas Perusahaan Sukanto Tanoto Terus Berkembang"